Beranda » Berita » Khutbah Arafah 2018/1439 di Masjid Namirah

Khatib Arafah, Syekh Al Syekh: Islam Menjaga Segala Kemaslahatan dan Mencegah Segala Kerusakan, Serta Menyeru untuk Memakmurkan Semesta

Dr. Husain bin Abdul Aziz Al Syekh

Rombongan jamaah haji berdatangan sejak pagi hari di Masjid Namirah di Arafah hari Senin untuk mendirikan shalat Dhuhur dan Ashar dengan dijama’ sekaligus qashar. Hal ini sesuai dengan Sunnah Nabi Saw. Mereka kemudian mendengarkan khutbah Arafah.

Sisi-sisi Masjid Namirah yang luasnya mencapai 110.000 m2 dan area sekitarnya yang luasnya 8.000 m2 penuh. Di barisan paling depan, ada Gubernur Makkah sekaligus Penasehat Penjaga Dua Kota Suci dan Ketua Komite Haji Pusat, Pangeran Khalid al-Faisal dan Ketua Majelis Ulama Saudi dan Komisi Fatwa, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Al Syekh. Sedangkan yang menyampaikan khutbah Arafah adalah imam sekaligus khatib Masjid Nabawi Syekh Dr. Husain bin Abdul Aziz Al Syekh. Khutbah Arafah ini dilakukan sebelum shalat.

Pertama-tama khatib membaca hamdalah karena Allah telah mengumpulkan jamaah haji di Arafah yang suci. Syukur dipanjatkan kepada Allah yang telah memberikan anugerah beragam dan petunjuk kepada budi pekerti yang mulia. Hadirin diajak bertakwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta hati selalu tergantung kepada-Nya dengan penuh rasa cinta dan harapan. Siapapun yang bertakwa, maka akan beruntung di dunia dan akhirat sesuai dengan firman Allah dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Hadid: 28).

Di antara jalan ketakwaan kepada Allah adalah dengan mengesakan-Nya dalam beribadah dan tidak berpaling kepada selain-Nya. Allah berfirman : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 21-22).

Menurut khatib Arafah, para nabi dan rasul datang dengan membawa ajaran tauhid, seperti yang dibawa oleh Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Isa As, dan Nabi Muhammad Saw. Allah berfirman : “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”” (QS. al-Mu’minun: 23)

Allah akan memberikan balasan yang baik kepada orang-orang yang mengesakan Allah dan mengikuti para nabi. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. an-Nahl: 36)

Mengesakan Allah secara murni seperti yang diserukan oleh para nabi. Inilah makna tiada sesembahan selain Allah. Kunci keberuntungan dan keselamatan adalah dengan mengejawentahkan persaksian bahwa tidak ada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Pengejawentahan tauhid adalah dengan mentaati perintah-Nya, membenarkan firman-Nya, dan hanya menyembah kepada-Nya.

Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. untuk seluruh umat manusia. Tujuannya mengeluarkan mereka dari kegelapan ke dalam cahaya, dari kesesatan menuju petunjuk. Allah memberikan kabar gembira dengan anugerah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh dengan surga.

Iman dibangun dengan rukun-rukun, seperti yang ditafsirkan oleh Nabi Saw.” Hendaknya engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir, dan qadha’ serta qadar-Nya.” Sedangkan mengenai rukun Islam, Nabi Saw. bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan engkau berhaji bila mampu.”

Menurut Syekh Al Syekh, shalat termasuk rukun Islam teragung setelah dua kalimat syahadat. Shalat adalah amalan yang menunjukkan jati diri Islam. Shalat adalah penghubung antara manusia dan Tuhannya. Di dalam shalat, para hamba memuji Tuhannya, Penciptanya.

Orang Islam yang sudah mendirikan shalat, dia pun harus membayar zakat, untuk menzakati hartanya, menolong fakir miskin dan memberikan kontribusi dalam kemaslahatan umum.

Bertakwa kepada Allah adalah kewajiban. Lalu berusaha keras bisa menjalankan ibadah haji. Karena dengan berhaji, maka dosa-dosa bisa terhapuskan. Nabi Saw. bersabda: “Barangsiapa berhaji, dan dia tidak berbuat dosa dan kefasikan, maka dihapuskan dosanya seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya.”

Siapapun yang berhaji, maka harus mengikuti Nabi Saw. “Ambillah dariku manasik kalian.” Mengambil petunjuk dari Nabi Saw. Ini adalah bukti cinta kepada Nabi Saw. Dan cinta kepada Nabi Saw. itu setelah cinta kepada Allah.

Nabi Saw. adalah manusia yang paling sempurna budi pekertinya. Aisyah menggambarkan budi pekerti Nabi Saw. dengan “Budi pekerti Nabi Saw. adalah Alquran”. Di antara bukti nyata dari keislaman seseorang adalah luhur budi pekertinya, baik dalam berinteraksi dengan sesama. Sekarang ini, budi pekerti yang luhur adalah keniscayaan dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain. Menjadi seorang warga negara yang baik adalah dengan menjadi pribadi dengan budi pekerti yang luhur. Budi pekerti yang luhur akan meluruskan pribadi dan masyarakat kepada nilai-nilai luhur.

Syekh Al- Syekh mengajak dengan sangat kepada semuanya agar memegang budi pekerti atau akhlak dalam segala bidang kehidupan. Inilah di antara isi khutbah Nabi Saw. pada hari Arafah agar seorang dalam hidupnya bernafaskan akhlak. Nabi Saw. melarang bermusuhan dengan orang lain. “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan harga diri kalian itu haram.”

Menurut Syekh Al Syekh, Islam menjaga kemaslahatan dan mencegah kerusakan. Islam menyeru agar memakmurkan semesta dan memberikan manfaat kepada seluruh makhluk. Islam menekankan prinsip persaudaraan kepada sesama muslim, harus saling menebarkan cinta kasih di antara mereka. Islam mendorong agar menyebarkan kebaikan, suka memberi, dan mampu menahan diri agar tidak menzalimi orang lain dan bermusuhan dengan mereka.

Umat Islam adalah umat yang satu, disatukan dengan petunjuk Alquran dan Sunnah. Berislam harus mampu menjauhkan diri dari perpecahan dan kebencian dengan bersimpuh kepada Allah semata. Berislam itu satu karna mengikuti Nabi Saw. yang satu, Alquran yang satu, dan shalat dengan menghadap satu kiblat, serta berhaji dengan haji yang sama, dengan saling tolong-menolong dengan adil dan kasih sayang.

Di antara perilaku wujud budi pekerti yang luhur adalah mampu memilih kata-kata yang baik ketika berucap. Allah memerintahkan agar manusia berkata yang baik. Berkata yang baik adalah berkata yang jujur dan berbuat jujur. Jadi, jujur dalam perkataan dan perbuatan. Allah juga memerintahkan untuk jujur dalam menunaikan janji, sebab janji pasti akan dimintai pertanggungan jawab.

Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, dan tetangga. Berbuat baik kepada pasangan adalah termasuk perintah Allah. Dalam khutbahnya, Nabi Saw. memerintahkan, “Berinteraksilah kalian dengan baik kepada para wanita.”

Islam memerintahkan umatnya berbuat baik kepada semua makhluk dan berbuat adil kepada mereka. Berbuat adil akan mencegah berbuat curang, menipu, dan mengurangi timbangan. Allah memuji orang yang gemar bersedekah dan menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Orang yang berbudi pekerti luhur dijanjikan Allah dengan ampunan dan surga-Nya. Berbudi pekerti yang luhur diantaranya ringan dalam bersedekah, mampu menahan amarah, dan suka memaafkan. Jika ini mampu dijalankan, seseorang berarti telah berbuat baik dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Syekh Al Syekh menegaskan bahwa hari ini dan di Arafah ini adalah waktu untuk bertaubat dan tempat untuk memohon ampunan. Dalam Shahih Bukhari, Nabi Saw. bersabda, “Tidak ada hari di mana Allah banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka dibandingkan dengan hari Arafah.”

Menurut Syekh Al Syekh, jika umat Islam memperhatikan surat al-Hujurat, maka jelas disana Allah melarang seseorang percaya rumor ataupun berita bohong (hoax). Allah memerintahkan agar manusia membuat perdamaian dengan dua pihak yang sedang berseteru. Allah melarang seseorang melecehkan orang lain, berburuk sangka, memata-matai, menggunjing, dan sombong.

Umat manusia seluruh dunia diseru untuk menelaah Alquran agar paham dan mengerti akan tingkatan budi pekerti, agar paham dan mampu meluruskan budi pekertinya. Nabi Saw. bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya, jika kalian berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah.” Allah menyeru agar umat Islam bersatu dan diperingatkan jangan sampai saling menipu, menghianati, dan lain-lain.

Syekh Al Syekh mengajak kepada umat Islam agar tetap berpegang dengan akhlak yang luhur dalam beraktifitas ekonomi. Hanya dengan akhlak yang luhur, kepercayaan orang lain bisa dibangun. Karena itulah, dalam praktik ekonomi dilarang penipuan, riba, memakan harta orang lain dengan batil, gambling, dan lain-lain.

Akhlak yang luhur juga  dibuktikan dengan mentaati pemerintah. Dengan mentaati perintah, maka akan terjaga sistem publik. Kita wajib taat kepada Allah, kepada rasul-Nya, juga kepada ulil-amri. Dengan taat kepada ulil-amri, maka akan terhindar dari pertentangan dan konflik, kewajiban ditegakkan dan perselisihan terhindarkan. Kebaikan diperintahkan dan kemungkaran bisa dicegah. Jika bisa demikian, maka akan menjadi umat terbaik (khair ummah). Allah menjanjikan kepada umat ini kemenangan, rezeki, kebaikan, dan bebas dari fitnah.

Seseorang harus bisa menjaga akhlak, di manapun berada apalagi di tanah suci. Tidaklah termasuk akhlak yang baik, memanfaatkan haji untuk mengajak ke faham yang sempit, penuh permusuhan.

Ketika berkhutbah di Arafah, Nabi Saw. memerintahkan Bilal untuk adzan. Kemudian berdiri shalat Dhuhur dengan di-qashar menjadi dua rekaat. Kemudian berdiri menjalankan shalat Ashar dengan di-qashar. Beliau berhenti di atas tunggangannya di Arafah sampai matahari tenggelam, kemudian pergi ke Muzdalifah. Beliau berpesan kepada para sahabat agar berwelas asih, saling menyayangi. Ketika sampai di Muzdalifah, beliau shalat Maghrib tiga rekaat dan Isya’ dua rekaat, di-jama’ dan di-qashar. Beliau lalu menginap di Muzdalifah dan shalat Subuh di sana pada awal waktu, kemudian berdoa kepada Allah. Setelah itu, beliau pergi ke Mina dan melontar jumrah Aqabah setelah terbitnya fajar sebanyak tujuh lontaran. Kemudian beliau menyembelih kurban dan ber-tahallul. Kemudian melakukan thawaf Ifadhah dan menetap di Mina pada hari Tasyriq dengan berzikir kepada Allah dan melontar jumrah yang tiga setelah tergelincirnya matahari dan berdoa ketika melontar jumrah yang shughra dan yang wustha. Jika berhalangan, maka diberikan keringanan tidak menginap di Mina. Termasuk Sunnah Nabi Saw. adalah bermalam di Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah. Ini yang paling utama. Diperbolehkan lebih cepat pada tanggal 12 Dzulhijjah. Jika Sudah selesai menjalankan manasik dan ingin kembali ke Madinah, maka beliau melakukan thawaf di Baitullah.

Syekh Al Syekh berpesan agar jamaah haji memperbanyak doa untuk orang-orang tercinta dan umat Islam agar Allah memperbaiki kondisi mereka dan menyatukan mereka dalam kebenaran.

Di antara kebaikan lainnya adalah melayani dua Kota Suci dan memberikan pelayanan kepada jamaah haji. Dan hal ini sudah dijalankan oleh Khadimul Haramain Syarifain (Penjaga Dua Kota Suci) dan Putra Mahkota.

http://www.alriyadh.com/1700073

 

Tim Redaksi Shahifah Makkah 2018

 

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda*Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.