Beranda » Berita » Khatib Masjidil Haram: Jamaah Haji Jangan Sampai Melakukan Apa Yang Tidak Diizinkan Allah

Khatib Masjidil Haram: Jamaah Haji Jangan Sampai Melakukan Apa Yang Tidak Diizinkan Allah

Imam sekaligus khatib Masjidil Haram, Syekh Dr. Usamah Khayath berpesan kepada segenap umat Islam agar bertakwa kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah membawa bekal kebaikan. Dalam khutbah Jum’at yang disampaikan di Masjidil Haram, Syekh Khayyath menuturkan bahwa seorang mukmin harus mempunyai tekad yang kuat dalam menjalankan kebajikan dan menggapai cita-cita yang tinggi serta kedudukan yang mulia di sisi Allah. Harapan mendapatkan pahala yang baik akan menuntun perilakunya di jalan kebaikan. Allah telah menjanjikan sebaik-baik janji. Allah mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk berhaji ke Baitullah agar mendapatkan balasan terbaik, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Umrah satu ke umrah lainnya adalah penebus dosa. Haji yang mabrur tidak ada balasannya, kecuali surga.”  (HR. Bukhari, Muslim, dan para penyusun kitab Sunan).

Berbuat kebajikan dalam haji akan mengantarkan seorang mukmin ke derajat muhsinin (orang-orang baik). Dengan banyak melakukan kebajikan dalam haji, maka akan membuat hajinya menjadi haji mabrur.  Namun semua itu harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan mengikuti Rasulullah SAW. Menurut Fudhail bin ‘Iyadh, “Jika suatu amal tidak dilakukan dengan benar, tidak diterima. Jika amal tersebut dilakukan dengan benar, namun tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Agar suatu amal itu diterima, maka harus dilakukan dengan benar dan ikhlas.” Ikhlas maksudnya hanya demi Allah semata. Sedangkan ukuran benar adalah sesuai dengan Sunnah. Keikhlasan dalam menjalankan haji adalah hanya demi Allah pelaksanaan kewajiban ini, bukan untuk berbangga diri, pamer, mengharap pujian, dan menyandang gelar haji. Semua itu akan menegaskan keikhlasan dalam beramal. Keinginan beramal hanya demi Allah. Jika beramal ada keinginan untuk selain Allah, maka tidak akan diterima. Hal tersebut seperti dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai hamba-hamba Allah, hendaknya seorang yang berhaji tidak berlebih-lebihan dalam pakaiannya, tunggangannya, tempat mampirnya, dan tinggalnya ataupun urusan-urusan haji yang lain. Dia pergi berhaji hanya mengharapkan ridha dari Allah, pahala-Nya. Dia pergi berhaji bukan untuk berbangga diri dan pamer kepada jamaah haji yang lain.’”

Syekh Khayyath menuturkan bahwa di antara kebaikan yang bisa mengantarkan kepada haji mabrur seorang yang berhaji itu membiayai hajinya dengan yang halal dan baik, menjauhkan biaya hajinya dari hal-hal keji dan haram. Haji yang demikian bisa saja tidak diterima dan tidak dikabulkan doanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, “Allah itu baik dan hanya menerima yang baik. Sungguh Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman seperti yang Dia perintahkan kepada para rasul. Kemudian menyebutkan seseorang yang dalam perjalanan yang jauh, rambutnya kusut dan berdebu menengadahkan tangannya ke langit, ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku! Sedangkan makanannya haram dan minumannya haram serta diberi makan dari keharaman, bagaimana doanya dikabulkan dengan demikian itu?”

Imam sekaligus khatib Masjidil Haram juga menuturkan bahwa sesungguhnya tempat-tempat berdoa, menyerahkan diri, dan bermunajat kepada Allah Tuhan semesta alam ada di sekeliling orang yang berhaji dan terpampang dalam setiap langkahnya serta dalam setiap jengkal perjalanan dalam berhaji sampai dia selesai menjalankan manasik hajinya. Semua itu menuntutnya agar semua itu dibiayai dari usaha yang halal, harta yang suci, dan nafkah yang halal serta baik. Termasuk kebajikan yang membuat haji menjadi mabrur adalah seorang berhaji menjauhkan apa yang dilarang oleh Allah, seperti kekejian dan apa saja yang mengantarkan kepada kekejian serta kefasikan. Kefasikan mencakup setiap dosa. Dosa itu ada yang sejak dalam hati seperti kesyirikan, kemunafikan, iri, dengki, sombong, menipu, dan semua perbuatan yang sumbernya dari hati. Dosa itu ada yang berupa perbuatan organ tubuh, seperti mengucapkan kebohongan, mengumpat, menuduhkan sesuatu yang tidak benar kepada orang lain, bermusuhan, dan lain-lain.

Syekh Khayyath menjelaskan bahwa perdebatan itu melahirkan permusuhan, selalu ingin menang sendiri dan mengalahkan lawan debatnya, dan merasa paling benar sendiri. Perdebatan sama sekali tidak akan menuntun kepada kebenaran, menjelaskan kebenaran, dan memberikan petunjuk kepada yang sesat. Seorang yang berhaji harus menjauhi segala yang bisa memalingkannya dalam beribadah dan sibuk dalam ketaatan kepada Allah. Jangan sampai seorang yang berhaji membicarakan sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah dan tidak disyariatkan oleh Rasuluallah SAW. Misalnya, menyerukan fanatisme dan menebarkan agitasi untuk memecah-belah. Haji mempunyai maksud dan tujuan yang luhur. Tujuan berhaji mencakup segala bentuk kebaikan, baik cepat ataupun lambat. Apa saja yang harus dijauhi oleh orang yang berhaji tujuannya adalah agar hajinya jauh dari dosa. Allah menghapus dosa dan mengampuninya. Hal itu sebagaimana dalam hadis diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Ra. yang menuturkan, “Aku mendengar Nabi SAW. bersabda, ‘Seorang yang berhaji, tidak berbuat keji, tidak berbuat fasik, maka dia kembali dari dosa-dosanya seperti hari dilahirkan oleh ibunya.’”

Syekh Khayyath menuturkan bahwa di antara kebajikan dalam haji adalah seorang yang berhaji gemar bersedekah, memberi kepada yang membutuhkan, baik fakir, miskin, maupun para janda. Bisa juga dengan berdonasi kepada lembaga-lembaga amal, membantu umat Islam yang terkena bencana, seperti ketika negara mereka berkecamuk peperangan, memberikan bantuan kepada para pengungsi, dan lain-lain. Allah menjanjikan kepada yang gemar berderma akan diberikan balasan terbaik, pahala paling mulia. Allah menjanjikan akan memberikan ganti atas apa yang pernah didermakan sesorang. Seorang yang berhaji harus bisa membantu sesama saudaranya, memberikan hak-hak mereka, dan menyingkirkan segala bencana dan bahaya dari mereka. Demikian itulah yang dinamakan dengan masyarakat muslim, yang mirip dengan yang disabdakan oleh Nabi SAW, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kasih sayang dan kelemahlembutan mereka seperti satu jasad, jika satu organ ada yang mengadu, maka bagian jasad yang lain akan ikut begadang dan demam.” (HR. Imam Muslim dari Nu’man bin Basyir). “Seorang yang beriman dengan orang yang beriman lainnya seperti bangunan, bagian satu dengan lainnya saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Musa Al-Asy’ari).

Imam sekaligus khatib Masjidil Haram juga berbicara mengenai keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, seperti yang khabarkan oleh Rasulullah SAW, “Tiada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan dengan hari-hari ini.” Yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang pergi dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali darinya sesuatu pun.”(HR. Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibn Majah). Sungguh akan mendapatkan keutamaan yang agung, siapapun memanfaatkan hari-hari tersebut untuk berjuang mendapatkan ridha Allah.

Di Madinah, imam sekaligus khatib Masjid Nabawi, Syekh Abdul Muhsin Qasim mendorong para jamaah haji memanfaatkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Sepuluh hari tersebut sungguh agung di sisi Allah, sehingga tepat untuk diisi dengan beribadah, berdzikir, bersedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan taubat dan memohon ampunan. Keutamaan hari-hari tersebut tentunya mendorong seseorang untuk memanfaatkannya dalam melakukan kebajikan. Nabi SAW mendorong agar setiap orang memanfaatkan segala kenikmatan, sebab kenikmatan itu bisa saja nantinya lenyap. Nabi SAW bersabda, “Ambillah lima sebelum lima: waktu mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Bukhari). Allah dalam Al-Qur’an bersumpah dengan sepuluh hari terakhir itu. “Demi fajar. Dan malam sepuluh hari [bulan Dzulhijjah].” (QS. Al-Fajr). Waktu siang sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama dibandingkan dengan siangnya sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Paling utama hari-hari yang ada di dunia adalah hari-hari sepuluh [hari bulan Dzulhijjah].”

Keutamaan sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah sebab di sana berkumpul induk peribadahan, baik shalat, puasa sunnat, sedekah, dan haji. Tidak hari-hari yang lain seperti ini. Kebajikan apapun menjadi amal yang disukai oleh Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Tiada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan dengan hari-hari ini.” Yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang pergi dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali darinya sesuatu pun.”(HR. Bukhari). Beramal pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih dicintai Allah dibandingkan beramal di hari-hari yang lain. Orang-orang terdahulu suka mengisinya dengan melakukan segenap kebajikan. Sa’id bin Jubair ketika memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka bersungguh-sungguh dalam beribadah semampunya. Dalam firman Allah: “Berdzikirlah kepada Allah pada-hari-hari yang diketahui.” Menurut Ibn Abbas, hari-hari yang diketahui (ayyam ma’lumat) itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Oleh sebab itu, dalam kesepuluh hari tersebut bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Nabi SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak lebih dicintai oleh-Nya dibandingkan dengan di dalam sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah di dalamnya tahlil, takbir, dan tahmid. Imam Nawawi menuturkan, “Disunnatkan memperbanyak dzikir di kesepuluh malam bulan Dzulhijjah lebih banyak dibandingkan malam-malam lainnya. Dan pada hari Arafah lebih disunnatkan lebih banyak berdzikir dibandingkan dengan sepuluh hari yang lain.” Sebaik-baik dzikir adalah dengan membaca Al-Qur’an.

Syekh Qasim menjelaskan banyak amalan yang bisa dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di antaranya memperbanyak takbir setiap saat. Pernah Ibn Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari ini. keduanya bertakbir, dan orang-orang bertakbir karena takbir kedua orang ini. (HR. Bukhari). Takbir yang ditentukan yaitu setelah fajar hari Arafah, baik untuk jamaah haji ataupun yang lain. Syekh Ibn Taimiyah menuturkan, “Pendapat paling benar mengenai takbir adalah yang dipegangi oleh mayoritas ulama terdahulu, para ahli fikih, sahabat, dan para imam, yaitu seyogianya bertakbir mulai fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq setiap selesai shalat.”

Banyak kebaikan yang bisa dilakukan pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah, seperti sedekah dan bertaubat. Sedekah adalah kebajikan yang bisa membuat hati menjadi lega. Sedangkan taubat bisa melahirkan kebahagiaan. Nabi SAW sendiri seharinya tidak kurang dari 100 kali dalam bertaubat. “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali.”(HR. Muttafaq ‘Alaih).

Jadi, sungguh indah taubat yang dijalankan pada hari-hari yang sangat dicintai Allah. Siapa saja yang sunguh-sungguh dalam bertaubat, maka akan mengganti keburukannya dengan kebaikan. Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dijalankan ibadah puasa. Puasa adalah salah satu rukun Islam. Haji termasuk amalan yang paling disukai Allah. Pernah Nabi SAW ditanya, “Apa amal yang paling utama?” beliau menjawab, “Beriman kepada Allah dan rasul-Nya.” Ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Syekh Qasim menjelaskan bahwa haji yang mabrur balasannya adalah surga. Dengan haji yang mabrur, maka dosa-dosa diampuni. Haji mempunyai tujuan agung dan mulia, di antaranya merealisasikan tauhid. Bacaan talbiyah menunjukkan hal tersebut.

Dalam sepuluh hari terakhir tersebut adalah hari kurban. Hari kurban disebut sebagai hari paling agung di sisi Allah. Pada hari kurban, dirayakan hari raya kurban sebagai tanda kebahagiaan telah mampu menjalankan salah satu rukun Islam. Banyak orang merayakan hari kurban dengan kebahagiaan. Namun mereka jangan sampai lalai dalam berdzikir kepada Allah. Kurban bisa disembelih pada hari-hari tasyriq. Mengenai hari tasyriq, Nabi SAW bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, pada hari tasyriq dirayakan ibadah harta benda dan badan, yaitu dengan berkurban. Berkurban ditujukan hanya untuk Allah semata.

Syekh Qasim mendorong agar semua waktu bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan itu semua, maka akan memperoleh kebahagiaan dan jauh dari siksa neraka serta beruntung mendapatkan surga.

 

Tags: , ,

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda*Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.