Beranda » Berita » Ka’bah Adalah Rumah Pertama Didirikan Untuk Manusia Dan Menjadi Kiblat Jutaan Umat Islam

Makkah: Diistimewakan Allah Dengan Berbagai Keistimewaan Dibandingkan Dengan Tanah Yang Lain

Jamaah PT Albilad Universal Pekalongan Usai Melaksanakan Sa’i

 

Makkah: Diistimewakan Allah Dengan Berbagai Keistimewaan Dibandingkan Dengan Tanah Yang Lain

Makkah menjadi kiblat lebih dari satu miliar umat Islam di lima kali setiap harinya, menjadi tempat haji dan berkumpulnya mereka. Allah mensucikan Makkah  sebagai wujud pengagungan hari penciptaan langit dan bumi.

Makkah ditinjau sejarahnya mempunyai akar sejarah yang lama sekali. Sebagian besar sumber-sumber sejarah sepakat bahwa Makkah telah ada sejak tahun 2800 SM.  Pada tahun itu, Ibrahim dengan didampingi Hajar, istrinya dan Ismail, anaknya datang dari tanah Kan`an, Palestina ke lokasi yang ditinggalkan penghuninya. Kemudian di sisinya dibangun Ka’bah dan sekitarnya didirikan kota Makkah al-Mukarramah. Ibrahim lalu meninggalkan tanah Hijaz ke kota Hebron, meninggalkan istrinya yang masih muda dan anaknya yang masih menyusui di lembah gersang tanpa ada tanamannya.

Itulah awal kebijaksanaan Allah yang memberikan kemuliaan dan kesucian kota Makkah. Ketika air yang ditinggalkan Ibrahim untuk isterinya habis, maka bayi Ismail merasa sangat kehausan. Jeritan tangisnya nyaring terdengar. Inilah yang mendorong ibunya, Hajar untuk mencari air antara Shafa dari gunung Abu Qubais dan Marwa dari Gunung Maqiqa’an yang berisi hanya batu-batu yang tidak tampak tanda-tanda kehidupan sama sekali. Hajar terus berusaha sampai akhirnya datang pertolongan Allah dengan memancarkan mata air Zamzam dan sampai akhirnya air tersebut mengalir. Hajar memberikan minum anaknya yang kehausan, sampai berhenti jerit tangisnya. Dengan munculnya Zamzam di negeri yang aman ini, maka kehidupan di sini menjadi sangat memungkinkan. Hajar dan puteranya kemudian tinggal di sekitar sumur tersebut. Banyak kafilah yang datang kepada mereka, sehingga dari keduanya memperoleh penghidupan dari kafilah-kafilah tersebut.

Suatu hari kemudian, Allah memerintahkan Ibrahim dan anaknya, Ismail untuk membangun Baitulllah tahun 2430 SM. Allah bercerita dalam kitab suci: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Baqarah [2]: 127). Lokasi di mana dibangun Baitullah di suatu tempat yang agak tinggi, sehingga banjir  hanya mengalir di sisi kiri dan kanannya.

Kemudian Makkah tumbuh dan berkembang menjadi pusat perdagangan penting dan tempat tinggal yang aman dihuni oleh manusia. Banyak kafilah dan pedagang yang berdatangan ke sana. orang-orang Arab dari berbagai penjuru Arab berdatangan menuju Baitullah dan melakukan thawaf di sana.

Pada masa Islam, Makkah, negeri yang aman ini menjadi negeri turunnya risalah kenabian. Makkah menjadi tempat turunnya wahyu sehingga memancarlah cahaya Islam dari sana menerangi seluruh dunia. Dari sana dikumandangkan identitas Islam kepada seluruh manusia, identitas yang penuh keamanan yang bersanding dengan kebaikan dan keberkahan.

Allah memberikan keistimewaan kepada tanah ini berbeda dengan tanah yang lain. Di sana berdiri kokoh Baitullah, rumah pertama yang dibangun untuk manusia sebagaimana dijelaskan al-Qur’an: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 96).

Pada tahun 8 H, tahun peristiwa pembebasan Makkah (Fath Makkah), Nabi Saw. memerintahkan al-Aswad bin Khalaf dan Tamim bin Asad al-Uzza untuk memperbarui tanda-tanda (batas-batas) Masjidil Haram Makkah.

Makkah semakin menjadi kota penting dan semakin meluas dengan banyaknya jamaah haji yang datang ke sana. Pasar-pasarnya bertambah banyak dan pasar Okaz menjadi pasar terpenting di sana. Pasar ini tidak hanya menjadi pusat perdagangan, melainkan menjadi arena berkompetisi syair (puisi), sastra, dan khutbah (pidato). Setelah itu, dibuka lah pasar Majaz selanjutnya pasar Majannah.

Dan Makkah terletak di selatan Hijaz dengan jarak 460 KM di selatan Madinah, 73 KM di sebelah timur dari Jeddah, 98 kilometer barat Thaif. Makkah terletak 360 M di atas permukaan laut. Dari utara kota ini dibatasi dengan Madinah, dari timur dibatasi dengan Nejed, dari barat dengan Jeddah, dan dari selatan dengan ‘Asir.

Dinamakan Makkah sebab kota ini menghancurkan (makka) orang yang bermaksiat dan mengeluarkannya dari sana. Sedangkan disebut dengan Bakkah sebab meremukkan (bakka) leher para penindas dan menghancurkannya atau bisa berarti kepadatan. Nama lain kota Makkah adalah Ummul Qura yang berarti induknya semua kota, Ummu Rahim sebab di sana orang-orang saling mengasihi, Kutsa nama sebidang tanah di sana, Nasah atau Basah yang berarti menghancurkan dan membinakan orang yang bermaksiat di sana, al-Bait al-‘Athiq (rumah kuno), al-Balad al-Amin (negeri yang aman), Ma’ad (tempat kembali), dan Hathimah (yang menghancurkan atau meremukkan).

Makkah terletak di lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit tandus, batu tandus dan pegunungan kusut dan lembah granit, serta terdiri dari beberapa kampung kecil dan sejumlah lorong-lorong sempit.

Atas karunia Allah, sekarang ini Makkah telah menjadi kota metropolis yang besar.  Kota ini dikelilingi sejumlah gunung yang jumlahnya mencapai 45 gunung, ada gunung yang kecil dan ada yang besar untuk menjadi penghalang yang membentengi kota. Gunung-gunung yang ada di seputar Makkah adalah gunung Qadha di arah utara, di arah barat gunung La`ali dan Jifan, gunung Qana di tengah lembah dan dataran tinggi. Berbagai dataran tinggi tengah, yaitu gunung Jiyad, gunung Abu Qabis, yang menghadap Masjidil Haram. Di gunung tersebut ada masjid Bilal. Dan membelakangi gunung Qubais adalah gunung Hindi.

Kota Makkah saat ini terdiri dari sejumlah kampung pemukiman, yaitu al-Ma’abdah, asy-Syamiyah, asy-Syubaikah, al-Qararah, al-Qasyasyiyah, al-Misfalah, Jarwal, Harah al-Bab, as-Sulaimaniyah, Syi’ib Amir, Syi’ib Ali, dan an-Naqa. Makkah juga terdiri dari sejumlah bagian administratif, yaitu al-Baiban, al-Khariq, al-Aziziyah, al-Manshur, Syara’i al-Mujahidin, al-Jumum, al-‘Awali, al-Laits, dan Bahirah.

Masjidil Haram dianggap sebagai pusat kota. Di sana ada Ka’bah yang diagungkan dan di antara tanda-tanda suci di sana adalah Hajar Aswad, Rukun Yamani, Rukun Syami dan Rukun Iraqi, Bab al-Ka’bah, al-Mustajar, al-Multazam, dan asy-Syadzarwan. Masjidil Haram juga mencakup Hijir Ismail, Maqam (tempat pijakan ketika berdiri) Ibrahim, Zamzam, Shafa dan Marwa. Di Makkah sendiri ada tempat-tempat suci, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Masjid terpenting setelah Masjidil Haram adalah Masjid asy-Syajarah, Masjid A’isyah, Masjid ‘Irq adz-Dhabiyyah, Masjid al-Khaif, Masjid Namirah, Masjid Ibrahim al-Khalil, Masjid al-Ijabah, Masjid al-Bai’ah, Masjid at-Tan’im, Masjid Ji’ranah, Masjid al-Mursalat, Masjid al-Haras, Masjid Khadijah, Masjid Darul Arqam, Masjid Dzi Thuwa, Masjid ar-Rayah, Masjid Muzdalifah, Masjid Surur, Masjid Salsabil, dan Masjid al-Kabasy.

Banyak sekali hadis mengenai keutamaan dan keistimewaan kota Makkah dan keutamaan shalat di sana. Di antaranya sabda Nabi Saw.: “Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di selainnya, kecuali di Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram adalah shalat yang lebih utama dari masjidku ini dengan selisih seratus kali.” (HR. Ahmad dan Ibn Hibban dengan isnad yang jayyid).

Diantara keutamaan Makkah adalah diharamkan menghadap dan membelakanginya ketika buang hajat di daerah manapun. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw.: “Janganlah engkau menghadap kiblat saat buang air besar ataupun air kecil dan janganlah membelakanginya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih). Keutamaan Makkah yang lain adalah kota ini menjadi induk segala kota dan menjadi kiblat seluruh penduduk bumi.

Oleh sebab itu, setiap orang Islam ditekankan untuk pergi ke sana dalam rangka haji. Nabi Saw. bersabda: “Demi Allah, sungguh engkau adalah tanah terbaik dan tanah yang paling dicintai Allah. Demi Allah, seandainya aku tidak dilahirkan darimu, tidaklah aku pernah dilahirkan.” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Oleh sebab itu, Allah memilih tanah suci ini untuk nabi-Nya Saw. Di sana dilakukan manasik haji dan menjadi negeri yang aman di mana tidak pernah ada pertumpahan darah, caci maki dan pertengkaran di sana. Siapa saja yang ke sana, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lewat, selama dia tidak berbuat keji dan bermaksiat. Makkah adalah kota terbaik dan paling dicintai Allah, sehingga menjadikan manasik haji diwajibkan di sana. Dua kali Allah bersumpah dengan kota ini dalam kitab-Nya.

Diantara kemuliaan Makkah al-Mukarramah banyak sekali dalil mengenai hal ini. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Makkah diharamkan Allah dan tidak diharamkan untuk manusia. Tidak dihalalkan bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengalirkan darah ataupun bertengkar di sana. Jika ada seseorang yang memperbolehkan memerangi Rasulullah Saw., maka katakanlah kepadanya: “Sesungguhnya Allah mengizinkan kepada Rasulullah Saw. dan tidak mengizinkan untukku sesaat pun dalam sehari. Keharamannya sekarang ini seperti keharamannya kemarin dan ini untuk disampaikan orang yang menyaksikan dan yang tidak menyaksikannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Redaksi Shahifah Makkah

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda*Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.